About seller
Minggu lalu saya bertemu beberapa sahabat, dan dalam percakapan kami, isu judi muncul, dan fresa orang dari tujuh orang dalam kelompok tersebut berpendapat bahwa praktik ini tak bermoral. Saya gak mengerti mengapa isu seperti itu dapat kontroversial, tetapi ya segera menyadari yakni semua yang menentang perjudian adalah mahasiswa internasional dari Tiongkok, dan praktik terkait dilarang di pelosok mereka. Saya menyusun makalah ini buat membenarkan perjudian melampaui lensa relativisme moral.Tidak ada seperangkat prinsip moral general yang dapat dirancang secara seragam dalam berbagai isu pada berbagai budaya. Pada budaya memiliki seperangkat kepercayaannya sendiri yang memengaruhi keputusan dalam dibuat mengenai seluruh masalah kehidupan dalam apa yang dianggap Green sebagai “masing-masing punya pendapatnya sendiri” (344). Dengan sebutan lain, tidak wujud seorang pun yang memiliki kedudukan moral yang lebih tinggi bagi menghakimi orang lain. Oleh karena itu, dalam kasus betting, orang harus diizinkan untuk melakukan apa pun yang mereka inginkan selama itu tak menyebabkan kerugian tuk individu lain.Betting adalah urusan pribadi, dan harus diperlakukan demikian tanpa melanggar kebebasan memilih seseorang. Jika saya menentang praktik ini, boleh jadi karena saya sudah mempelajari aspek-aspek merugikan yang terkait dengannya, hal terbaik yg dapat saya perbuat adalah menyampaikan kejelasan tersebut kepada para penjudi dan berharap mereka dapat menengok aspek negatif dari apa yang mereka lakukan.Namun, di luar mendidik afin de penjudi, hanya mereka yang bersedia mendengarkan, saya tidak menghasilkan memaksakan ideologi saya kepada mereka sebab, menurut relativisme ethical, kode moral suatu masyarakat merupakan fungsi dari apa dalam dianggap orang sebagai hal yang menghasilkan diterima atau gak dapat diterima. Via pribadi, saya tidak merupakan seorang penjudi, serta sebenarnya saya bukan mendukungnya, tetapi pendekatan filosofis saya kepada kehidupan dan moralitas didasarkan pada relativisme moral. https://celebrityfashionista.com/list/ Saya jadi menjadi bodoh bila bukan sombong kalau saya mencoba menilai perilaku orang lain menggunakan standar etika saya karena kode etik saya bukan lebih baik daripada kode etik individu atau masyarakat yang lain.Pendirian saya tentang masalah perjudian mendapat ditentang dari berbagai perspektif. Seorang kritikus pandangan saya mendapat berpendapat bahwa info yang tersedia di dalam literatur dan studi berbasis bukti memperlihatkan bahwa praktik ini dikaitkan dengan banyak aspek negatif. Seumpama, Heiskanen berpendapat yakni perjudian dapat menyebabkan kecanduan, penyalahgunaan zat, masalah keuangan, perpecahan keluarga, dan ulah tidak pantas sebagainya, seperti kejahatan (364-366).Namun, dalam tanggapan saya, saya berpendapat bahwa isu yg diperdebatkan bukanlah apakah perjudian itu benar atau tidak, tetapi bagaimana orang seharusnya diizinkan untuk menjalani hidup mereka. Memanfaatkan data berbasis kenyataan untuk menolak kemampuan dan hak orang untuk memilih adalah tindakan yang bukan bermoral. Masalah di sini bukanlah perkara medis, tetapi pasal filosofis dan didukung oleh prinsip-prinsip relativisme moral; orang seharusnya diizinkan untuk menentukan antara apa yg bermoral atau gak bermoral sesuai melalui keyakinan mereka.Kesimpulannya, isu perjudian memunculkan banyak pertanyaan, terutama dari sudut pandang filosofis. Seseorang mungkin bertanya-tanya mengapa kubu berwenang membiarkan praktik yang jelas-jelas gak bermoral ini bertumbuh di masyarakat sama sekali tanpa menetapkan undang-undang buat melarangnya. Namun, yang perspektif relativisme meaningful, tidak ada kebenaran universal dalam etika, dan dengan demikian apa yang bermoral atau tidak bermoral akan berbeda yang satu budaya atau masyarakat ke penduduk lain berdasarkan tumpuan yang mendasarinya. Walaupun perjudian ilegal di Tiongkok karena dianggap buruk, perjudian diperbolehkan di AS kemudian sebagian besar pelosok lain.